Royal Star – Study tour sekolah bukan lagi hal yang baru bagi kita semua. Hampir setiap sekolah mulai dari tingkat SD, SMP dan SMA mempunyai program study tour tahunan yang di laksanakan setiap tahunnya. Study tour biasanya di laksanakan di penghujung semester, menjelang musim liburan. Banyak sekolah melaksanakan study tour untuk berekreasi, me’refresh’ suasana agar kembali bersemangat saat menghadapi kegiatan belajar mengajar. Tak jarang juga, study tour menjadi acara perpisahan bagi siswa kelas 3 yang akan mengakhiri masa studi di sekolah tersebut.
Akhir-akhir ini kegiatan study tour sekolah sedang menjadi sorotan banyak pihak. Banyak kasus kecelakaan fatal saat study tour yang memakan banyak korban jiwa. Bahkan di beberapa daerah, pemerintah daerah melarang sekolah untuk mengadakan study tour tersebut. Study tour seharusnya menjadi hal yang menyenangkan, bukan berbuah bencana seperti beberapa kasus belakangan. Kali ini, Starmin akan mengulas bagaimana seharusnya kegiatan study tour dijalankan.
Mau Selamat? Gunakan Transportasi yang Layak!
Kasus kecelakaan rombongan study tour sebuah SMK asal Depok di Ciater Lembang beberapa waktu yang lalu menjadi sorotan publik. Pasalnya, menurut investigasi, rombongan tersebut menggunakan bus yang tak layak jalan. Bus yang mereka tumpangi tak lengkap secara administrasi dan bahkan tak mengantongi ijin perjalanan. Secara umur, bus tersebut juga sudah melebihi batas tahun untuk bus pariwisata yaitu 15 tahun. Bus hanya di rombak body saja agar terlihat baru dan modern. Fakta tersebut menggemparkan para orang tua murid yang ikut dalam study tour tersebut. Akibatnya, study tour yang awalnya menjadi acara perpisahan bagi para siswa, berubah menjadi malapetaka.
Tragedi itu menewaskan 11 orang, 10 diantaranya adalah murid dan guru SMK Lingga Kencana Depok. Beberapa pihak dinilai bertanggung jawab terhadap insiden tersebut. Mulai dari pihak sekolah yang dianggap ‘menekan ongkos perjalanan’, lalu pihak jasa tour & travel yang tak mampu menyediakan armada yang layak, dan longgarnya pengawasan pemerintah terhadap kelaikan transportasi. Seharusnya, bus pariwisata berusia maksimal 15 tahun, setelah itu pemerintah harus menindak tegas Perusahaan yang masih mengoperasikan armadanya. Pihak sekolahpun harus lebih jeli dan teliti mengecek kelayakan armada bus pariwisata yang akan di gunakan. Lebih baik berat di ongkos namun selamat, daripada murah namun di bayar nyawa.
Selalu Pastikan Pengemudi dan Awak Bus Tidak Mengantuk
Kecelakaan bus pariwisata akibat sopir bus mengantuk bukan hal yang baru di dunia transportasi kita. Hal tersebut harusnya bisa di cegah, bukan hanya jadi evaluasi setelah puluhan nyawa calon penerus bangsa melayang. Baru-baru ini terjadi insiden kecelakaan maut rombongan study tour SMP PGRI 1 Wonosari di tol TransJawa akibat sopir bus mengalami microsleep. Sopir bus seharusnya sadar, ‘meleng’ sedikit saja di tol dapat berakibat fatal bagi seluruh penumpang. Penumpang wajib mengingatkan apabila sopir bus lelah dan mengantuk, untuk segera berhenti dan beristirahat. Sopir bus juga harus menyadari batas lelah dan tidak memaksakan apabila sudah kelelahan.
Lantas Bagaimana Menghapus Stigma Negatif Study Tour yang Terlanjur Tercoreng Akibat Beberapa Insiden Belakangan Ini?
Study tour memang mempunyai banyak dampak positif bagi sisa dan guru. Selain sebagai kegiatan refreshing, study tour juga dapat menjalin keakraban antara murid ke murid, dan murid ke guru. Namun, akibat banyaknya kecelakaan saat study tour belakangan ini membuat banyak orang tua khawatir akan kegiatan ini. Evaluasi besar-besaran harus di lakukan banyak pihak, karena menurut starmin, yang salah bukan study tournya, namun cara penyelenggaraannya.
Pihak sekolah harus lebih selektif lagi memilih jasa tour & travel, yang bertanggung jawab menyediakan armada bus beserta akomodasinya. Pastikan bus yang di gunakan layak jalan dan dalam kondisi prima. Selama perjalanan pun, pastikan pengemudi dalam keaadan sehat, dan panitia wajib menegur pengemudi yang ugal-ugalan. Pihak panitia penyelenggara harus tegas, demi keselamatan saat berlangsungnya kegiatan study tour tersebut.
Harapannya, study tour tidak lagi memakan korban. Kegiatan yang positif seharusnya di selenggarakan secara bijaksana dan hati-hati. Sudah saatnya pihak sekolah, jasa tour & travel dan pemerintah bersinergi agar kegiatan study tour sekolah tetap aman, nyaman dan menyenangkan. Kalau kalian tim yang setuju kegiatan study tour di lanjutkan atau tidak guys? Tulis jawaban kalian di kolom komentar ya guys!
Nah kalau kalian sudah siap buat study tour jangan lupa pesan souvenir yang memorable untuk study tour kalian. Souvenir unik, keren dan memorable cuma di Royal Star tempatnya! Bikin setiap acara sekolah, kantor dan event kalian semakin memorable dengan merchandise dari Royal Star! Jangan lupa follow semua sosial media Royal Star ya guys!
Add comment